Kajian Isra Mi'raj Hidayatullah Depok Tekankan Keimanan yang Teguh


DEPOK -- Peringatan Isra Mi’raj bukan sekadar perayaan seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk meneguhkan keyakinan dan menanamkan nilai-nilai spiritual bagi generasi Muslim. Inilah yang menjadi fokus utama dalam kajian bertema Isra Mi’raj yang digelar oleh Hidayatullah Depok di Aula SMP-MA Hidayatullah, Depok, Selasa (28/1/2025). 

Acara ini menghadirkan Ustadz Najibullah Ibnu Fahas, MM, seorang pakar Sirah Nabi Muhammad SAW sekaligus pengampu dalam kajian rutin pekanan kitab Ar-Rahiqul Al-Makhtum di Masjid Ummul Qura Hidayatullah Depok.

Ustadz Najibullah menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik Rasulullah SAW, tetapi juga peristiwa spiritual yang memiliki makna mendalam bagi umat Islam. 

"Kita harus memercayai peristiwa ini dengan keimanan karena banyak daripada orang-orang kafir lebih mengedepankan logika yang terbatas," ujarnya dalam kajian tersebut. Ia menambahkan bahwa logika manusia memiliki batas, sedangkan keimanan kepada Allah SWT harus melampaui keterbatasan akal.

Dalam kajiannya, Ustadz Najibullah mengajak hadirin untuk mentadaburi Surah Al-Isra sebagai dalil utama peristiwa ini. Ayat pertama dalam surah tersebut menyebutkan secara eksplisit perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. 

Kajian kemudian berlanjut dengan membahas latar belakang peristiwa Isra Mi’raj, yang terjadi pada tahun-tahun penuh kesedihan bagi Rasulullah SAW, yaitu setelah wafatnya dua sosok penting dalam hidupnya: Khadijah RA dan Abu Thalib.

Isra Mi’raj merupakan perjalanan luar biasa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, yang terdiri dari dua fase: Isra, yaitu perjalanan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina, dan Mi’raj, yaitu perjalanan naik ke Sidratul Muntaha, langit tertinggi, hingga menerima perintah sholat lima waktu langsung dari Allah SWT. Inilah yang menjadikan sholat sebagai ibadah istimewa yang tidak diperintahkan melalui perantara malaikat Jibril seperti ibadah-ibadah lainnya.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi Rasulullah SAW setelah peristiwa Isra Mi’raj adalah penolakan kaum kafir Quraisy yang menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil. 

Ustadz Najibullah dalam kajiannya membantah pandangan skeptis ini dengan menjelaskan bahwa bagi Allah SWT, yang menciptakan langit dan bumi serta mengatur segala sesuatu, perjalanan seperti Isra Mi’raj adalah hal yang sangat mudah.

"Jika manusia di zaman sekarang saja mampu menciptakan teknologi luar angkasa dan menjelajahi bulan, maka bagaimana mungkin Allah, Sang Maha Pencipta, tidak mampu membawa Nabi-Nya dalam perjalanan luar biasa ini?" ungkapnya dengan analogi yang mengena bagi para santri. 

Ia juga menyampaikan bahwa bagi orang-orang yang imannya kuat, Isra Mi’raj bukan sekadar hal yang bisa diterima secara akal, tetapi juga sebagai bukti keagungan Allah SWT.

Dari peristiwa ini, hikmah terbesar yang diwariskan kepada umat Islam adalah kewajiban sholat. "Sholat merupakan tiang agama, apabila meninggalkannya sama dengan menghancurkan agama," tegas Ustadz Najibullah. Hal ini mengingatkan bahwa sholat bukan hanya sekadar ritual ibadah, melainkan identitas dan jati diri seorang Muslim yang tidak boleh ditinggalkan.

Setelah pemaparan materi, sesi tanya jawab berlangsung dengan antusias. Para santri yang memiliki rasa ingin tahu tinggi diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Ustadz Najibullah menjawab dengan penuh kesabaran dan mendetail, yang disambut dengan sorak sorai kegembiraan dari para peserta. 

Sebagai bentuk apresiasi, santri yang berani bertanya dan menyampaikan kesimpulan dari materi mendapatkan hadiah berupa roti dari beliau, sebagai bentuk penghargaan atas keberanian mereka.

Acara ini dibuka dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Izyan Rashad, santri kelas 12 Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, yang melantunkan Surah Al-Isra ayat 1-5 dengan khidmat. Lantunan yang merdu menambah kesakralan acara dan membangun atmosfer reflektif bagi seluruh peserta.

Dengan adanya kajian ini, diharapkan generasi muda Muslim tidak hanya memahami peristiwa Isra Mi’raj secara historis, tetapi juga mampu menggali hikmah di baliknya untuk mengokohkan keimanan mereka. "Jangan sampai kita hanya mengingat Isra Mi’raj sebagai formalitas, tetapi harus diimbangi dengan keimanan yang haqiqi," pungkas Ustadz Najibullah.

Naskah: Faisal Daariy
Foto: Mercyvano Ihsan